PT Pelabuhan Tanjung Priok atau yang dikenal juga PTP Nonpetikemas (Pelindo Group) mencatat kinerja bertumbuh sepanjang 2025. Total realisasi throughput PTP Nonpetikemas 2025 mencapai 48,1 juta ton, naik 2,41% dibandingkan 2024, terdiri dari 46% curah kering, 25% general cargo, 23% curah cair, dan 6% bag cargo.
PTP Nonpetikemas terus menunjukkan perkembangan, ditandai dengan meningkatnya throughput di beberapa cabang. Sejumlah cabang mencatat pertumbuhan signifikan, seperti Pontianak dengan kenaikan tertinggi 46% dengan total throughput 4,5 juta ton. Sedangkan Tanjung Priok melayani total throughput 16,1 juta ton tumbuh 9%. Beberapa cabang lainnya juga mencatatkan kinerja positif, di antaranya Jambi, Cirebon, dan Pangkal Balam, dan sejumlah lainnya.
Peningkatan produktivitas kinerja operasional atau kecepatan layanan dalam satuan Ton/Ship/Day (T/S/D) di berbagai cabang pelabuhan meningkat dari target, terlihat dengan capaian tertinggi seperti pada general cargo oleh Cabang Tanjung Priok meningkat 14% sebesar 3.682 T/S/D. Pada curah cair capaian tertinggi oleh Cabang Teluk Bayur meningkat 38% dengan realisasi sebesar 5.132 T/S/D. Kemudian, pada segmen curah kering menorehkan hasil impresif dengan peningkatan 60% oleh Cabang Bengkulu hingga 7.175 T/S/D.
“Pertumbuhan throughput dan kecepatan layanan PTP Nonpetikemas merupakan bukti komitmen kami kepada pelanggan. Kami terus berupaya mengembangkan inovasi dan menguatkan kinerja operasional dengan penyediaan peralatan yang memadai. Sistem digital berupa PTOS M, menyajikan pemantauan real time hingga upaya pemasaran aktif, melalui hubungan baik yang akan terus kami bangun dengan para customer dan stakeholder” kata Indra Hidayat Sani, Direktur Utama PTP Nonpetikemas.
Terminal Kijing sebagai salah satu pelabuhan potensial yang dikelola PTP Nonpetikemas sejak 1 Agustus 2022 berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka, mampu melayani hingga 15 kapal sekaligus dengan kapasitas hingga 100.000 DWT berkat kedalaman laut -15 MLWS dan panjang dermaga lebih dari 1.900 meter. Keunggulan tersebut menjadikan Terminal Kijing sebagai tulang punggung arus barang di wilayah barat Kalimantan.
Didukung ekosistem komoditas kelapa sawit yang kuat meliputi 84 perkebunan, 132 perusahaan industri CPO, dan 42 terminal khusus, Terminal Kijing berperan sebagai pintu gerbang ekspor CPO. Terminal Kijing dengan berbagai fasilitasnya menangani beragam komoditas nonpetikemas, termasuk batubara, pupuk, CPO, bauksit, caustic soda liquid, kargo berat, aluminium hidroksida, dan lain-lain. Komoditas tersebut mendukung lonjakan throughput hingga 53% dari tahun sebelumnya.
Terminal Kijing sebagai penopang rantai pasok industri sekitarnya menjadi pusat distribusi material untuk keberlanjutan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional dengan logistik berkapasitas besar. Komoditas yang ditangani merupakan barang milik MIND ID Group, khususnya PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebagai produsen alumina yang merupakan program hilirisasi pemerintah.
PTP Nonpetikemas juga menyediakan layanan shorebase skala nasional dan internasional, bekerja sama dengan sejumlah perusahaan energi diantaranya Harbour Energy, Mubadala Energy, HCML, Conrad Energy, serta Medco Asia. Layanan tersebut beroperasi di sejumlah wilayah di antaranya Jakarta, Lhokseumawe, dan Banyuwangi.
PTP Nonpetikemas berkomitmen dalam menerapkan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) dan berhasil mempertahankan predikat zero accident hingga akhir 2025.